Selasa, 12 Maret 2013
Apa itu PCOS?
Polycystic Ovary Syndrome(PCOS) adalah endokrinopatia utama yang terjadi pada wanita pada masa reproduksi dan diperkirakan mengenai lebih dari 10% populasi. (PCOS) merupakan masalah kesehatan seorang wanita yang dapat mempengaruhi:
1. Siklus menstruasi
2. Kemampuan untuk memiliki anak
3. Hormon
4. Jantung
5. Pembuluh darah
6. Penampilan
Dengan PCOS, perempuan biasanya memiliki:
1. Tingginya kadar androgen. Ini kadang-kadang disebut hormon pria, meski wanita juga memproduksinya, namun dalam skala kecil.
2. Mens yang tidak teratur
3. Banyaknya Kista di indung telur mereka
Apa yang menyebabkan PCOS?
Penyebab PCOS tidak diketahui. Tetapi kebanyakan ahli berpikir bahwa beberapa faktor, termasuk genetika sangat berperan. Wanita dengan PCOS lebih mungkin memiliki ibu atau saudara perempuan dengan PCOS.
Masalah utama yang mendasari PCOS adalah ketidakseimbangan hormon. Pada wanita dengan PCOS, ovarium membuat androgen lebih banyak dari biasanya. Androgen adalah hormon laki-laki walaupun perempuan juga memproduksinya. Tingginya kadar hormon ini mempengaruhi perkembangan dan pelepasan telur selama ovulasi.
Para peneliti juga berpikir insulin mungkin berhubungan dengan PCOS. Insulin adalah hormon yang mengontrol perubahan gula, pati, dan makanan lainnya menjadi energi bagi tubuh untuk digunakan atau disimpan. Banyak wanita dengan PCOS memproduksi terlalu banyak insulin dalam tubuh mereka karena mereka memiliki masalah dalam memproduksinya. Kelebihan insulin tampaknya meningkatkan produksi androgen. Tingginya kadae androgen dapat menyebabkan:
1. Jerawat
2. Pertumbuhan rambut yang berlebihan
3. Berat badan
4. Masalah dengan ovulasi
Apa saja gejala PCOS?
Gejala-gejala PCOS dapat bervariasi dari wanita untuk wanita. Beberapa gejala PCOS mencakup:
1. Infertilitas (tidak bisa hamil) karena tidak berovulasi. Bahkan, PCOS adalah penyebab paling umum dari ketidaksuburan seorang perempuan.
2. Jarang, tidak ada, dan / atau periode menstruasi yang tidak teratur
3. Hirsutisme, meningkatkan pertumbuhan rambut pada wajah, dada, perut, punggung, jempol, atau jari kaki
4. Kista pada ovarium
5. Jerawat kulit, berminyak, atau berketombe
6. Berat badan atau obesitas, biasanya dengan berat badan ekstra di sekitar pinggang
7. Mempunyai pola kebotakan atau penipisan rambut seperti Pria
8. Kulit pada leher, lengan, payudara, atau paha yang tebal dan berwarna coklat tua atau hitam
9. Kulit tag – flaps yaitu kelebihan kulit di ketiak atau daerah leher
10. Sering merasa Nyeri panggul
11. Kecemasan atau depresi
12. Sleep apnea - berhenti bernapas untuk jangka waktu yang singkat saat tidur
Mengapa wanita dengan PCOS memiliki masalah dengan siklus menstruasi dan kesuburan?
Ovarium, di mana seltelur wanita diproduksi, memiliki kecil kantung berisi cairan yang disebut folikel atau kista. Seperti telur yang tumbuh, folikel terbentuk cairan. Ketika telur matang, folikel istirahat lalu terbuka, telur dilepaskan, dan telur berjalan melalui tuba fallopi ke uterus (rahim) untuk terjadi pembuahan. Ini disebut ovulasi.
Pada wanita dengan PCOS, ovarium tidak membuat semua hormon yang dibutuhkan sel telur untuk sepenuhnya matang. Folikel mungkin mulai tumbuh dan membangun cairan tapi tidak terjadi ovulasi. Sebaliknya, beberapa folikel mungkin tetap sebagai kista. Untuk alasan ini, ovulasi tidak terjadi dan produksi hormon progesteron tidak ada. Tanpa progesteron, siklus menstruasi wanita tidak teratur atau tidak ada. Plus, ovarium membuat hormon laki-laki, yang juga mencegah ovulasi.
Artikel diambil dari website bidan kita
Senin, 23 Maret 2009
Cara Memandikan Bayi
Menyiapkan mandi bayi Anda yang baru lahir bukan hal mudah. Terutama bagi para ibu muda yang baru pertama kali melahirkan. Selain dibutuhkan ekstra hati-hati, persiapan alat mandi juga harus diperhatikan.
Salah satu spesialis anak RSU dr Soetomo Surabaya, dr Agus Harianto SpAK mengatakan, memandikan bayi gampang-gampang susah. "Meski terkadang tak berjalan lancar, namun memandikan bayi itu sungguh menyenangkan bila dibarengi dengan penuh kasih sayang," kata Agus kepada detiksurabaya.com, Selasa (17/3/2009).
Agus menjelaskan, langkah pertama yang harus dilakukan yakni mengetahui suhu air. Ada baiknya suhu air yang digunakan di bawah 40 derajat celcius atau hangat-hangat kuku. "Lebih baik ditest dengan lengan. Bila nyaman itu berarti air tersebut nyaman bagi bayi Anda," tambahnya.
Dia mengingatkan agar terlebih dulu menyiapkan sabun lembut, popok bersih, handuk dan kain pembilas berdekatan dengan bak mandi. Jika salah satu peralatan tertinggal, sebaiknya Anda mengambil peralatan tersebut dengan membawa bayi Anda. "Jangan pernah meninggalkan bayi di dalam bak mandi. Ini sangat membahayakan," tambahnya.
Selain itu saat memandikan bayi, sebaiknya tidak mengangkat telepon atau bel pintu yang sedang berdering. "Abaikan dan teruslah memandikan bayi Anda hingga selesai. Bila perlu sampaikan ke teman dan tetangga jika memandikan bayi, Anda tidak ingin diganggu," tegasnya.
Setelah itu gunakan kain lembut yang sudah basah membasuh tubuh bayi dengan pelan. Bilas kepala, belakang telinga, leher, jari tangan dan kaki. Namun bila bayi baru lahir, Anda cukup membasuh wajah, leher dan area bagian tubuh yang dikelilingi popok.
"Gunakan lap pembasuh bayi yang bersih, tanpa sabun, untuk membasuh wajahnya. Basuhlah bagian luar dan dalam di tiap-tiap kupingya dan bilas dan keringkan lehernya," tambahnya.
Namun, jelas dia, jangan pernah menggunakan sabun busa atau detergen, sebab bisa menyebabkan ruam dan kulit mengelupas. Basuhlah rambut bayi anda dan bilas dengan penuh kelembutan. Kerjakan hal ini hanya sekali atau dua kali seminggu saja
Sumber: http://surabaya.detik.com
Minggu, 22 Maret 2009
waspadai ketulian pada bayi
Jangan anggap masalah pendengaran hanya milik orang dewasa. Bayi yang baru dilahirkan pun bisa mengalaminya. Gangguan pendengaran pada bayi adalah kelainan yang diderita sejak dalam kandungan. Penyebabnya beragam mulai dari faktor genetika, kebiasaan orang tua, sanitasi orang tua dan proses persalinan.
"Kemungkinan gangguan pendengaran saat persalinan juga bisa saja terjadi," kata Kepala Divisi Otologi Departemen Ilmu Kesehatan THT/KL RSU dr Soetomo Surabaya, Prof dr Sri Harmadji SpTHT-KL (K) kepada wartawan saat konfrensi pers Peringatan Hari Kesehatan Pendengaran Nasional di RSU dr Soetomo, Jalan Prof dr Moestopo, Selasa (3/3/2009).
Penyebab lain gangguan pendengaran pada bayi, kata dia, yakni bayi dilahirkan dalam keadaan kuning. Atau saat mengandung, ibu terkena penyakit herpes.
Sri menjelaskan, ciri-ciri bayi mengalami gangguan pendengaran yang paling gampang diketahui yakni tidak segera menangis setelah dilahirkan. Selain itu respon yang diterima oleh bayi sangat lambat.
Guru Besar Falkutas Kedokteran Unair ini menyarankan ke seluruh masyarakat yang akan melahirkan untuk mendeteksi kelainan pendengaran pada anaknya. Idealnya umur 0-3 bulan. Dengan deteksi dini maka kelainan tersebut bisa diobati.
Hal ini dikatakan lantaran masih banyak keluarga yang mengira bayi yang memiliki ciri di atas dalam keadaan normal. Perkiraan ini sering dikatakan dengan "sawanen".
"Padahal itu adalah salah satu ciri dari kelainan pendengaran. Kami harap keluarga segera memeriksakan bayinya," tambahnya.(stv/fat)
sumber: http://surabaya.detik.com
Rabu, 18 Maret 2009
50 Tips for a Healthy Pregnancy
Trying for a baby? Being healthy before, during and after pregnancy involves so many different aspects of your life. So, I've compiled a quick list to help you stay on the healthy side.
- See your practitioner before becoming pregnant.
- Start changing your food habits to include a healthy variety of foods.
- Exercise! Starting now will help you stay in shape during pregnancy, can lower your risk of miscarriage, and has been proven to help reduce labor complications and length.
- Educate yourself!
- Eat a new vegetable you've never tried.
- Check out a book on pregnancy.
- Figure out what to do about chemical birth control, like the birth control pill.
- Stop smoking. There are many programs to help you.
- Take a prenatal vitamin. They can be prescribed by your practitioner or you can buy them over the counter. Ensure it contains 0.4 mg of folic acid.
- Ask your partner to join you on your new healthy habit changes.
- Track your cycles. Learning what you can about your cycles will help determine when you ovulate and when you conceived. These make for more accurate due dates.
- If you need a new practitioner, interview before you become pregnant.
- Ask your friends about pregnancy and parenthood.
- Avoid chemicals that could possibly harm your baby. You can find these at work, in your home, and just about anywhere, be environmentally sensitive.
- See your dentist before you get pregnant and brush your teeth daily.
- Tell any medical professional that you may be pregnant if you are trying to get pregnant. This can prevent exposure to harmful tests and chemicals if you are pregnant and don't know it yet.
- Stop changing cat litter.
- Remember, it can take up to a year to become pregnant. If you have been actively trying for a year or more than six months if you are over 35, see your practitioner.
- Act pregnant. This includes not drinking alcohol, even while trying to conceive. There is no known safe level during pregnancy and alcohol can cause birth defects.
- Announce your pregnancy when you are ready.
- Talk to your parents, what do you want to take from their experiences? How do you want to be different?
- Rest when you can. Nap!
- Start a journal.
- Use non-medicinal remedies for problems like nausea, heartburn, and constipation.
- Drink six - eight eight ounce glasses of water a day.
- Read yet another book!
- Join a prenatal yoga or exercise class.
- Keep your prenatal appointments with your midwife or doctor. This will help ensure that if you have any problems that they are caught early and kept to a minimum.
- Take an early pregnancy class.
- Remember to add 300 - 500 calories a day while pregnant.
- Tour your selection of birth facilities before making a choice if you are not having a home birth.
- Review the signs of premature labor and warnings signs for when to call your practitioner.
- Talk to local doulas and start interviewing. Doulas can help you have a shorter, safer and more satisfying birth.
- Keep a food diary to ensure that you are keeping up with your daily requirements.
- If you are decorating your house or a nursery remember to avoid fumes often associated with paint and wall paper. Perhaps have friends do the heavy work while you help make snacks for them. Keep the windows open!
- Baby sit a friend's baby and learn a bit about caring for a newborn.
- Take a childbirth class. Sign up early to ensure you get the class and dates that you want.
- Swimming is great in late pregnancy. It can help relieve a lot of aches and pains and makes you feel weightless.
- Take a breastfeeding class to help prepare you for the realities of breastfeeding.
- Stretch before bed to help prevent leg cramps.
- Continue to exercise, even if you have to slow down. This will help you recover more quickly.
- Write a birth plan. Something to help you clarify what you want or need for your birth experience. Share this with your practitioners and those you have invited to your birth.
- Have film and cameras ready!
- Practice relaxation whenever you can. Try for at least once a day.
- Do pelvic tilts to help with late pregnancy back pain. It will help relieve your pain and even encourage the baby to assume a good birth position.
- Pack your bags if you are going to a birth center or hospital. Don't forget your insurance cards, pre-registration forms, camera, birth plan, etc.
- Review the signs of labor and warning signs.
- Take a picture of yourself before the baby comes!
- Read birth stories.
- Kiss the baby!
source: http://pregnancy.about.com
Penyakit kehamilan
Penyakit kehamilan harus segera diatasi agar bayi dalam kandungan dan ibu yang mengandung senantiasa dalam keadaan sehat.
Ini penting karena saat kehamilan, proses persalinan, dan masa kelahiran merupakan fase rawan bagi si ibu dan bayi.
Sering berkonsultasi dengan petugas kesehatan, bidan dan dokter kandungan, akan membantu dalam mewujudkan kesehatan yang mantap.
Berikut macam-macam gangguan yang sering dialami oleh ibu-ibu hamil:
- Mual dan muntah
Mual dan muntah biasanya mengalami kenaikan intensitas pada pagi hari, selama bulan kedua atau ketiga masa kehamilan. Perasaan mual ini dapat dikurangi dengan makan makanan kering, seperti biskuit atau roti bakar, sebelum Anda bangkit dari tempat tidur pada pagi hari.
Jangan makan dalam porsi banyak sekaligus, sebaiknya makan dalam takaran sedikit-sedikit namun beberapa kali dalam sehari. Saat mual dan muntah mencapai puncaknya, minumlah antihistamin sebelum Anda pergi tidur dan ketika Anda bangun pada pagi hari. Hindari makanan yang berlemak. - Rasa terbakar atau sakit
Rasa sakit ini sering terjadi pada ulu hati atau di daerah sekitar dada (indigesti asam dan perasaan pada dada/heartburn). Untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan, makanlah setiap kali dalam ukuran kecil. Jika mungkin, minumlah susu. Hindari penggunaan anticid. Menghisap permen pedas mungkin membantu mengurangi tanda ini. Usahakan tidur dengan kepala dan dada ditinggikan dengan bantal atau tumpukan selimut. - Kaki yang bengkak
Ibu hamil yang mengalami bengkak kaki, dianjurkan untuk beristirahat pada siang hari dengan posisi kedua kaki diletakkan pada posisi lebih tinggi. Kurangi mengonsumsi makanan yang bergaram atau menghindari makanan yang asin-asin. Teh yang terbuat dari rambut jagung dapat membantu mengurangi bengkak kaki. Jika kedua belah kaki sangat bengkak,dan kedua belah tangan serta wajah juga membengkak, mintalah bantuan dokter.
Pembengkakan kaki biasanya terjadi akibat tekanan bayi dalam rahim selama bulan-bulan terakhir. Keadaan ini terjadi paling berat pada wanita yang mengalami anemia, kurang gizi, atau yang makan garam terlalu banyak. Oleh karena itu makanlah makanan yang bergizi dengan sedikit atau tanpa garam. - Sakit pada punggung bagian bawah
Keluhan ini sering dijumpai pada kehamilan. Gerak badan, berdiri, lalu kembali duduk dengan punggung lurus dapat membantu mengurangi rasa sakit ini. - Kekurangan darah dan kurang gizi
Banyak wanita di pedesaan menderita kekurangan darah bahkan sebelum mereka hamil; dan jika tidak segera ditangani, anemia yang diderita akan semakin berat. Agar bayinya sehat, seorang wanita hamil memerlukan makanan yang kaya akan protein dan zat besi. Apabila ibu tampak sangat pucat dan lemah atau memperlihatkan tanda-tanda kurang darah atau kurang gizi, ia harus mendapatkan lebih banyak protein.
Makanan berprotein dapat diperoleh dari buncis , kacang tanah, daging ayam, susu, telur, ikan, daging sapi, keju, dan sayur-sayuran yang berwarna hijau gelap. Si ibu diwajibkan minum pil zat besi, terutama jika sukar memperoleh cukup makanan yang bergizi. Dengan cara ini, ia akan memprkuat darahnya agar dapat bertahan terhadap pendarahan yang berbahaya setelah melahirkan (persalinan). Jika memungkinkan, makanlah pil-pil zat besi yang berisi asam folat dan vitamin C. - Pembuluh darah balik (vena) yang mengandung(varices)
Tanda ini sering dijumpai pada kehamilan, karena berat bayi menekan pembuluh balikv(vena) yang datang dari tumgkai. Untuk mengatasinya, angkatlah kedua belah kaki sesering dan setinggi mungkin. Jika pembuluh darah balik tersebut sangat menggembung atau sakit, balutlah kedua tungkai dengan pembalut yang lentur/elastis. Lepaskan pembalut tersebut pada malam harinya. - Wasir(Ambien hemorrhoid)
Wasir atau ambien merupakan pembengkakan pembuluh darah balik(varices) pada dubur. Penyakit ini disebabkan oleh berat badan bayi dalam rahim. Untuk menghilangkan rasa sakitnya, menungginglah. - Sembelit (konstipasi)
Minumlah banyak air. Makanlah buah-buahan dan makanan berserat, seperti singkong atau jagung. Jangan mempergunakan obat pencuci perut (urus-urus) yang kuat. Selain mengonsumsi makanan yang bergizi, sangat dianjurkan untuk melakukan gerak badan dan aktivitas luar rumah.
sumber: http://www.anneahira.com/pencegahan-penyakit/penyakit-kehamilan.htm
Sarapan Penentu Jenis Kelamin
Sarapan pagi menurut riset baru-baru ini ternyata turut menentukan jenis kelamin anak Anda. Yuk, sarapan pagi yang bernutrisi!
Jika Anda ingin mendapatkan anak laki-laki, tingkatkan pola makan Anda. Penelitian menunjukkan ibu yang memiliki pola makan yang baik, konsumsi kalori dan nutrisi yang tinggi, cenderung akan melahirkan anak laki-laki.
Trik anak laki-laki. Penelitian terbaru menunjukkan, perempuan yang sering menyantap serealia (biji-bijian) untuk sarapan pagi cenderung mendapatkan anak dengan jenis kelamin laki-laki. Dan bagi mereka yang seringkali melewatkan sarapan pagi, cenderung memiliki anak dengan jenis kelamin perempuan.
Penelitian itu menunjukkan mereka yang sarapan serealia setiap hari, 59 persen melahirkan anak laki-laki. Sementara kelompok yang tidak pernah atau jarang sarapan serealia, hanya 43 persen yang melahirkan anak laki-laki.
Asupan kalori dan potasium juga ikut mempengaruhi! Jika Anda ingin memiliki anak laki-laki, perbanyaklah asupan kalori Anda selama masa konsepsi dan awal-awal kehamilan. Fiona Mathews, PhD, yang meneliti hal ini mengatakan, “Para ibu, yang memiliki anak laki-laki, mengonsumsi potasium 300 mg dan kalori sekitar 180 mg lebih banyak per harinya daripada para ibu yang memiliki anak perempuan. Itu setara dengan sebuah pisang besar.”
Berkah anak perempuan. Buat Anda memimpikan punya bayi perempuan, saran jitunya tentu bukan dengan menghindari sarapan pagi! Anda tetap harus makan teratur dan tak mengabaikan sarapan pagi. Sebab, pola makan yang baik, khususnya sarapan pagi sangat penting untuk tumbuh-kembang si janin. Tingkatkan asupan asam folat, yang penting selama masa konsepsi dan awal kehamilan untuk mencegah cacat lahir. Sumbernya, antara lain serealia, ragi (misalnya, roti), juga sayuran berwarna hijau.
Namun demikian, punya anak laki-laki atau perempuan sebenarnya sama saja. Yang penting si buah hati lahir dengan normal dan sehat. Benar begitu kan Bunda ....
Kamis, 12 Maret 2009
Pre-eclampsia
When is swelling a sign of something serious?
During pregnancy, swelling in the ankles and toes is normal and very common. It is called oedema and means that you have extra fluid in your body. However, swelling in other parts of the body, particularly if it is sudden, is something you should bring to the attention of your midwife.
What is pre-eclampsia?
AdvertisementPre-eclampsia is a pregnancy-induced condition, which can occur in the second half of pregnancy. It is characterised by high blood pressure, swelling that happens suddenly along with rapid weight gain due to fluid retention, and protein in the urine.
Pre-eclampsia can range from mild to severe and can affect various systems of the body. Although there is no treatment that will stop it completely during pregnancy, pre-eclampsia can be managed.
Since it reduces the flow of blood to the placenta, pre-eclampsia can be quite dangerous for your unborn baby. It can restrict your baby's growth because not enough oxygen or nutrients get through. If you have any reason to suspect that you might have pre-eclampsia, contact your doctor or midwife immediately.
If pre-eclampsia develops into eclampsia, your blood pressure will become extremely high and both you and your baby will be at great risk. Eclampsia can cause seizure or convulsions, which can lead to coma and can be fatal. If it happens, eclampsia usually develops in late pregnancy or just after the baby is born.
Are some women more likely to develop pre-eclampsia?
Mild pre-eclampsia affects about seven in every 100 pregnant women. Eclampsia is much rarer; only 1 in 100 women with pre-eclampsia go on to develop it. Almost half the cases of eclampsia (44 per cent) occur after the baby has been born.
The exact cause of pre-eclampsia is not known but there are recognised risk factors. You're more likely to get pre-eclampsia in a first pregnancy or if there is a big gap, usually of at least ten years, between this and your last pregnancy.
You are also more at risk if you:
- are 40 or older
- were very obese at the start of your pregnancy, with a BMI of 35 or more
- have a chronic medical problem that affects your blood system, including high blood pressure, lupus, kidney problems, or diabetes
- are carrying twins or multiples
- have a family history of pre-eclampsia, such as your mother or sister had it • have had it before - one in five women get it again
How can I prevent it?
There is no certain method of preventing pre-eclampsia. However, the best way of ensuring that neither you nor your baby comes to any harm if you do develop it is to attend your antenatal appointments regularly. The main reason for the urine tests and blood pressure readings carried out by your midwife when you go to your antenatal appointments is to detect any early signs of pre-eclampsia.
There is some evidence to suggest that regular low-dose aspirin and calcium supplements before and in early pregnancy may help prevent pre-eclampsia in some women. Talk to your midwife or doctor if you are interested in these treatments.
If I get pre-eclampsia, how will it be treated?
If your blood pressure is moderately raised, you will be advised to have as much bed rest as possible, lying either on your left hand side because this improves the flow of blood to the placenta, or sitting well propped up. Your midwife will probably visit you on a daily basis to check your blood pressure.
If your blood pressure becomes very high, you might be admitted to hospital so that your condition can be monitored. Scans will be used to monitor your baby's growth and CTG (cardiotochograph) will be used to check your baby's heart rate and wellbeing. The aim is to prolong your pregnancy as long as possible, to give your baby the best chance.
You may also be given magnesium sulphate injections. A large research study published in 2002 found that if mothers with pre-eclampsia are given magnesium sulphate, it roughly halves their risk of developing eclampsia.
If your blood pressure cannot be controlled, your obstetrician may suggest that you have your labour induced or that you deliver your baby by caesarean section.
Pre-eclampsia will get better on its own once your baby is delivered. But you are still at risk of pre-eclampsia for up to four weeks after your baby is born, especially if your pre-eclampsia was severe or diagnosed when your pregnancy was 37 weeks or more.
What are the warning signs for pre-eclampsia?
Pre-eclampsia is a serious condition for you and your baby. Occasionally pre-eclampsia develops very quickly. Don't hesitate to call your doctor or midwife if you have any of the following symptoms in the second half of pregnancy or in the first few weeks after birth:
- sudden swelling of the face, hands or feet
- intense headaches accompanied by blurred vision or spots before the eyes
- severe pain in the top of your abdomen
- vomiting
Early detection and care can make a big difference in the course of pre-eclampsia.
Can pre-eclampsia lead to any other complications?
In rare cases it can lead to complications such as HELLP syndrome, which is a liver and blood clotting disorder. HELPP stands for haemolysis (H - breaking down of red blood cells), elevated liver enzymes (EL) and low platelet count (LP). It can develop before pre-eclampsia has been diagnosed. Symptoms of HELLP syndrome include headaches, nausea and pain in your upper abdomen.
source: http://www.babycentre.co.uk
Langganan:
Postingan (Atom)
